GERAKAN RENAISANCE
DisusununtukMemenuhiTugas
Mata KuliahFilsafatUmum
Dosen :Mibtadin, S.Fil.I., M.SI
Disusun Oleh :
1.
Latifah Anis Safitri (143221113)
2.
Ima Yuliana (143221122)
3.
Bayu Wiratama (143221127)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
SURAKARTA
2014
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Filsafat merupakan induk dari semua ilmu[1]. Filsafat
telah mengubah pola pikir umat manusia, yang beranggapan bahwa semua peristiwa
yang ada di alam ini adalah dipengaruhi oleh dewa. Sehingga para dewa harus
dihormati bahkan ditakuti lalu disembah. Filsafat
bukanlah ilmu yang baru lahir tetapi telah ada sejak dahulu bahkan sejak
nabi Adam as.
Sebenarnya telah ada filsafat. Ketika kita membahas tentang filsafat tentu
membutuhkan daya pikir yang mendalam untuk bisa
memahami dan menghasilkan suatu pemikiran. Diharapkan
dengan sedikit pembahasan makalah ini mampu
menambah wawasan tentang filsafat.
Khususnya mengetahui mengenai sejarah gerakan renainsance.
Istilah renaisance
berasal dari bahasa Perancis, yang berarti kebangkitan kembali. Istilah
tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual.
Orang pertama yang menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet,
sejarahwan Perancis yang terkenal. Menurutnya, renaisance ialah periode penemu manusia dan dunia dan bukan sekedar sebagai
kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern.
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Renaisance
Renaissance berasal dari kata “Re” yang berarti kembali dan “naiter” yang berarti bangun. Jadi, renaissance memiliki arti bangun kembali. Renaissance adalah suatu periode
sejarah yang mencapai titik puncaknya kurang lebih pada tahun 1500. Perkataan “renaisans” berasal dari bahasa Perancis renaissance yang artinya adalah “Lahir Kembali” atau
“Kelahiran Kembali”. Yang dimaksudkan biasanya adalah kelahiran kembali budaya
klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno. Masa ini ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang seni, pemikiran maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan
intelektual abad pertengahan.
Pada masa renaisance adalah rasionalisme yang menetapakan
bahwa kebenaran berpusat dari akal tetapi setiap akal bergantung pada subjek
yang menggunakannya. Oleh karena itu, seorang filosuf rasionalis menekankan bahwa berfikir sebagai wujud
keberadaan diri jika seorang berfikir berarti ia ada, ajaran ini diperkenalkan oleh rene
descartes dengan paradigma cagito ergo sum atau sagito descartes.[2]
Sejak permulaan Renaisans, sebenarnya
individualisme dan humanisme telah dicabangkan oleh Decartes untuk memperkuat
idea-idea ini. Humanisme dan individualisme merupakan ciri Renaisans. Humanisme
ialah pandangan bahwa manusia mampu mengatur dunia. Ini suatu pandangan yang
tidak menyenangkan orang-orang beragama. Oleh karena itu zaman ini sering juga
disebut zaman humanisme, maksudnya manusia diangkat dari abad pertengahan.
Pada zaman pertengahan manusia tidak
dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan dari gereja (kristen) bukan dari ukuran yang
dibuat oleh manusia, padahal manusia mempunyai kemampuan berfikir[3].
Selama abad
pertengahan di Eropa kehidupan manusia diselimuti oleh hal- hal yang bersifat
agamis, dengan semboyan hidup tidak selamanya dan ingat akan kematian. Setelah
era Renaissance pandangan agamis tersebut mulai ditinggalkan dan tidak di
hormati lagi, atau agama Kristen tidak lagi menjadi patokan dan pandangan hidup
manusia Eropa pada saat itu. Renaissance adalah masa kekuasaan, masa kesadaran,
masa keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan tanpa batas dan sering tanpa
kesusilaan.Warisan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dipelajari lagi oleh para
cendekiawan yang pada zaman itu disebut “KAUM HUMANIS”. Kaum humanis adalah
jargon zaman Renaissance yang sejajar dengan artista(seniman) atau iurista(ahli
hukum).
Datangnya sejarah Yunani di eropa
karena minat orang-orang terhadap kebudayaan Yunani pada khususnya dan
kebudayaan kuno pada umumnya.Orang mau mengambil kebudayaan kuno itu didunia itulah yang dianggap
kebudayaan yang sempurna.Masa ini terkenal dengan sejarah sebagai lahirnya kembali zaman kuno atau
renainssance. Filsafat merosot nilainya baik karena hasilnya yang kurang
gemilang maupun karena dianggap terlalu kuno. Sedang pendapat-pendapat baru pada jaman
renaissance ini biasanya amat bertentangan satu sama lain. Tiap-tiap pendapat
merasa benar, orang bebas dalam segalanya. Perkembangan aliran humanisme di dunia barat Sejak abad ke-15 semakin
menyadarkan para cendikiawan akan peranan dan kemampuan manusia dan
martabatnya, dengan tidak berdasarkan iman dan agama. Dukungan atas kesadaran
itu dicari dan ditemukan dalam studi tentang sastra, seni, dan filsafat masa
yunani dan romawi kuno praktisiani.Dari dunia pasifik Barat salah satu titik definitif perkembangan itu
dicapai pada masa revolusi Perancis dalam bidang filsafat sudah ada tanda-tanda ke arah pembaharuan
itu.Umpamanya Rene Dekartes, Barakh
Spinoza, Blaise Pascal.Para filosof aliran empirisme inggris namun yang paling jelas adalah Immanul Kant dengan “revolusi kepernikan-
kepernikanya.”
Adapun manusia, pusat pandangan dan
pengetahuan, bukanlah manusia pada umumnya seperti jaman yang mendahuluinya, melainkan sesuai dengan sifat modern
ini.Manusia perseorangan yang merupakan
individu yang kongkrit. Dan itu dalam kesusilaan pun tidak ada patokan umum.
Dalam sistem pun manusia merupakan individu yang mengutamakan segala kekuatan,
terutama budinya.
Dalam ilmu mencapai berbagai macam
perkembangan yang bukan main. Seperti ilmu bahasa, ilmu hayat dan ilmu alam.
Metode ini dicari serta didapatnya sendiri
dan hasilnya mengagumkan. Pada kalangan Scholastik tidak dikatakan ada
kemajuan ilmu. Walapun harus diakui bahwa pada abad ke-15 dan ke-16 beberapa
bagian Eropa terutam di Spanyol ada filsuf-filsuf yang ternama. Tetapi pengaruh mereka kurang besar pada kalangan ilmuan pada
umumnya.
Dalam perkembangan ilmu-ilmu
kemanusiaan, kita jumpai nama-nama seperti Auguste Comte, Karl Marx,
Friendrich Engeis, Pierre – Joseph Proudhon, Sigmund Freud, dan terutama
teoretikus ilmu – ilmu kemanusiaan, Wilheim Dilthey.
B.
Faktor-faktor
gerakan renaisance
Renaissance
muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan mengubah
perasaan pesimistis (zaman Abad Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini juga
menyebabkan dihapuskannya system stratifikasi sosial masyarakat agraris yang
feodalistik. Maka kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi
masyarakat yang bebas. Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan
agama sehingga menemukan dirinya sendiri dan menjadi fokus kemajuan.
Antroposentrisme
menjadi pandangan hidup dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari.Selain
itu adanya dukungan dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan semangatRenaissance, sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa. Renaissance
lahir sekitar abad ke 15-16 M, tatkala kaum intelektual, politik, dan seniman
di daratan Eropa serentak bertekad untuk mengadakan suatu gerakan pembaharuan
yang menginginkan kebebasan berpikir dan akan merubah doktrin agama mereka yang
dirasakan sangat mengekang kemerdekaan batin. Perkembangan pertama renaisans
terjadi di kota Firenze. Keluarga Medici yang memiliki masalah dengan sistem
pemerintahan kepausan menjadi penyokong keuangan dengan usaha perdagangan di
wilayah Mediterania. Hal ini membuat para intelektual dan seniman memiliki
kebebasan dan mendapatkan perlindungan dari kutukan pihak gereja.
Keleluasaan
ini didukung oleh tidak adanya kekuasaan dominan di Firenze.Kota ini
dipengaruhi oleh bangsawan dan pedagang. Dari sini, kemudian renaisance menjalar ke daratan Eropa lainnya.Adapun sebab
utama lahirnya renaisance itu karena
keterkejutan orang-orang Eropa menyaksikan ambruknya imperium Romawi Timur oleh
kaum Muslimin, terutama dengan peristiwa jatuhnya Konstantinopel yang
menyebabkan penaklukan Kerajaan Turki atas Romawi Timur (Byzantium) pada tahun
1453 M.
Dalam Sejarah Eropa, faktor-
faktor ekstern dan intern yang di alami masyarakat Eropa sehingga memasuki masa
Renaissance[4], antara lain:
- Kelahiran Renaissance di Italia sebagia akibat maju pesatnya perdagangan dan pelayaran di perairan laut tengah terutama setelah berakhirnya perang salib.
- Menjelang akhir perang salib sebelum dan setelah tahun 1291 barang- barang dari timur diminati di pasaran Italia dan Eropa baik tenunan, makanan, rempah- rempah, perabotan rumah tangga dan lainnya. Sehingga impor produk timer meningkat dan kota- kota dagang di Italia menjadi ramai.
- Dengan ramainya perdagangan banyak memberikan keuntungan kepada pedagang dan melahirkan kaum bourjuis- kapitalis, dimana mereka sebagai masyarakat kota yang kaya juga pemilik modal besar.
Melalui kepemilikan uang dan
kekayaan kaum kapitalis membuat mereka mampu membiayai penterjemahan ilmu
pengetahuan, penampungan para seniman untuk berkarya.
C.
Pengaruhnya
kepada Kebangkitan Filsafat Barat Modern
Eropa Abad
Pertengahan memiliki ciri khusus di mana kekuasaan Gereja berpengaruh sangat
dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan negara saat itu.Hal ini lebih
lanjut juga mempengaruhi sistem filsafat jaman itu, berikut pula perkembangan
ilmu pengetahuan di dalamnya.Ilmu pengetahuan dipandang dan digunakan untuk
melegitimasi keyakinan yang didasarkan pada dogma-dogma agama.Filsafat pun
demikian. Pendeknya, sebagaimana tradisi skolastik, segala sesuatu harus
disesuaikan dengan kepercayaan akan dogma-dogma agama.
Cara pandang modern sebagai lawan dari cara
pandang Abad Pertengahan dimulai di Italia dengan gerakan yang disebut
Renaissance. Gerakan ini merupakan antitesa bagi corak kesadaran Abad
Pertengahan yang ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren
dan sistematis yang tampil dalam bentuk metafisika atau ontologi.
Apa yang dikehendaki oleh Renaissance adalah
hal-hal baru sebagai kritik terus-menerus terhadap nalar teosentrisme yang
melulu dipelihara pada abad pertengahan. Dari situ kemudian lahirlah berbagai
macam bidang keilmuan yang dipisahkan dari pengaruh agama dan dogma, dengan
sepenuhnya didasarkan pada kekuatan subyektifakal-budimanusia(antroposentrisme).Renaissance,
meskipun bukan gerakan populer dan hanya dimotori oleh segelintir intelektual
dan seniman “liberal”, gerakan ini mempengaruhi banyak hal dalam peradaban
Eropa. Seni, sains, filsafat, dan lebih dari itu pola hidup Eropa, secara
revolusioner bergerak menjauh dari style Abad Tengah yang puritan menjadi
liberal. “Cogito ergo sum” yang di bawa descartes menjadi pondasi yang
sangat mendukung, hal itu di pandang sangat jelas dan cocok.
Secara ringkas dapat diketahui beberapa
perubahan yang sangat signifikan terjadi di Eropa yang dalam hal ini berkenaan
dengan pengaruh Renaissance, yakni di bidang sains (berikut juga seni),
paradigma sosial, politik,ekonomi.Ada cukup alasan yang menjadi dasar bagi
pertentangan antara otoritas gereja dengan kepentingan sains,Salah satu alasan
yang kiranya paling mendasar adalah bahwa dalam kenyataannya, sains, sebagai
sesuatu yang relatif, seringkali bertolak belakang dengan apa yang diajarkan
dan dianjurkan oleh gereja,
Maka logislah jika selama gereja berkuasa ruang
bebas bagi sains menjadi sempit Pembebasan dari otoritas gereja mendorong
terbentuknya cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan dogma Abad
Pertengahan. Otoritas gereja menyatakan ketentuan-ketentuannya sebagai
kepastian absolut dan tidak bisa diubah selamanya. Objektifitas semacam ini
tentu menjadi ruang sempit bagi kebebasan akal manusia untuk berkreasi, Pada
Renaissance, otoritas gereja yang absolut itu diluluh-lantakkan sedemikian rupa
oleh sains yang pernyataan-pernyataannya dibuat secara tentatif berdasarkan
kemungkinan (relatif) dan dianggap dimodifikasi. Renaissance merupakan masa
kebangkitan bagi sains.
Kebebasan berekspresi demikian menggebu-gebu
mengalahkan segala tabu yang pada Abad Pertengahan menghegemoni perkembangan
pemikiran manusia. Dalam hal ini Renaissance, lebih jauh dari pada membebaskan,
juga membuat Eropa mengalami euforia. Seni untuk seni, sebagaimana sains untuk
sains, adalah slogan yang sangat mengakar pada kesadaran banyak seniman Eropa
Abad Renaissance.Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci adalah dua di
antara para jenius yang dibesarkan dalam ruang euforia itu. Selanjutnya, apa
yang juga menjadi dampak langsung dari Renaissance adalah berubahnya atmosfir
sosial-politik di daratan Eropa. Hal ini, terjelaskan dengan menguatnya
negara-negara yang menggantikan gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol
kebudayaan. Ini merupakan awal bagi demokrasi, dalam pengertiannya sebagai
paradigma sosial yang modern, yang menjadi sebuah kekuatan politik penting
menggantikan monarki, absolut.
Bentuk pemerintahan demokratis yang muncul
sebagai paradigma baru tersebut kemudian pada perkembangannya diikuti dengan
munculnya bentuk kebudayaan baru, yakni kebudayaan liberal. Model ekonomi
feodalistik yang diganti dengan model kapitalistik adalah suatu
pengejawantahan, sekaligus konsekuensi logis, dari paradigma liberal yang
berlaku, yang memiliki pondasi kuat berupa individualisme dan, tentu saja, humanism.
Gerakan ini mendorong tumbuhnya kebiasaan untuk
menghargai aktifitas intelektual sebagai sebuah kerja sosial yang sulit, penuh
tantangan dan menyenangkan, bukan meditasi menyendiri yang bertujuan memelihara
ortodoksi predeterministik. Pada masa itulah tokoh-tokoh saintis banyak sekali
muncul di Eropa. Lantas tidak hanya
sampai di sini, dialektika yang berlangsung dalam situasi ini pun mendorong
sekularisasi, yaitu pemisahan kekuasaan politis dari agama[5].
KESIMPULAN
Renaissance adalah masa kekuasaan, masa kesadaran, masa keberanian,
kepandaian yang luar biasa, kebebasan tanpa batas dan sering tanpa kesusilaan, yang terjadi dan muncul pada sekitar tahun 1500. Renaisance memberikan
pengaruh yang luar biasa khususnya pada filsafat barat modern terutama dalam
bidang seni dan sains. Dalam perkembanganya sendiri, munculnya gerakan
renaisance di latar belakangi oleh berbagai faktor. Antara lain, tumbuhnya kota-kota dagang yang makmur, majunya kegiatan
pelayaran di laut tengah akibat dari berakhirnya perang salib, dan lain
sebagainya. Di samping itu, munculnya gerakan renaisance memberikan pengaruh
yang luar biasa khususnya pada filsafat barat modern. Dari dilarangnya
seseorang untuk berpikir yang dipelopori oleh golongan gereja, akhirnya dapat
di akhiri dengan munculnya berbagai pemikiran-pemikiran yang mampu mengubah
doktrinasi dari gereja tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Kattsoff, Louis O. 2004.Pengantar Filsafat. Yogya: Tiara Wacana
Suhendi, Hendra. 2008. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia
Wijanta, Poedja. 1961. Pembimbing ke Arah Alam. Jakarta:
Pustaka Sarjana:
[1]Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogya:
Tiara Wacana, 2004), hlm.vii
[2]Hendra
Suhendi, Filsafat Umum, (Bandung: CV
Pustaka Setia, 2008), hlm 340
[3]Ibid, Filsafat Umum, hlm 339-340
[4]http://obloabazelstyle.blogspot.com/2012/11/filsafat-zaman-renaissance.html, 9.01 wib , 9/22/2014
[5]Poedja
Wijanta, Pembimbing ke Arah Alam, (Jakarta: Pustaka Sarjana: 1961), hlm 91-92
Tidak ada komentar:
Posting Komentar