Sabtu, 11 April 2015

MAKALAH FILSAFAT GERAKAN RENAISANCE



MAKALAH FILSAFAT UMUM
GERAKAN RENAISANCE
DisusununtukMemenuhiTugas Mata KuliahFilsafatUmum
Dosen :Mibtadin, S.Fil.I., M.SI
Disusun Oleh :

1.   Latifah Anis Safitri        (143221113)
2.   Ima Yuliana                     (143221122)
3.   Bayu Wiratama              (143221127)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2014

PENDAHULUAN

 LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan induk dari semua ilmu[1]. Filsafat telah mengubah pola pikir umat manusia, yang beranggapan bahwa semua peristiwa yang ada di alam ini adalah dipengaruhi oleh dewa. Sehingga para dewa harus dihormati bahkan ditakuti lalu disembah. Filsafat bukanlah ilmu yang baru lahir tetapi telah ada sejak dahulu bahkan sejak nabi Adam as. Sebenarnya telah ada filsafat. Ketika kita membahas tentang filsafat tentu membutuhkan daya pikir yang mendalam untuk bisa memahami dan menghasilkan suatu pemikiran. Diharapkan dengan sedikit pembahasan makalah ini mampu menambah wawasan tentang filsafat. Khususnya mengetahui mengenai sejarah gerakan renainsance.
Istilah renaisance berasal dari bahasa Perancis, yang berarti kebangkitan kembali. Istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual. Orang pertama yang menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet, sejarahwan Perancis yang terkenal. Menurutnya, renaisance ialah periode penemu manusia dan dunia dan bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern.





PEMBAHASAN

A.    Sejarah Renaisance

Renaissance berasal dari kata Re yang berarti kembali dan naiter yang berarti bangun. Jadi, renaissance memiliki arti bangun kembali. Renaissance adalah suatu periode sejarah yang mencapai titik puncaknya kurang lebih pada tahun 1500. Perkataan “renaisans” berasal dari bahasa Perancis renaissance yang artinya adalah “Lahir Kembali” atau “Kelahiran Kembali”. Yang dimaksudkan biasanya adalah kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno. Masa ini ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang seni, pemikiran maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual abad pertengahan.
Pada masa renaisance adalah rasionalisme yang menetapakan bahwa kebenaran berpusat dari akal tetapi setiap akal bergantung pada subjek yang menggunakannya. Oleh karena itu, seorang filosuf rasionalis menekankan bahwa berfikir sebagai wujud keberadaan diri jika seorang berfikir berarti ia ada, ajaran ini diperkenalkan oleh rene descartes dengan paradigma cagito ergo sum atau sagito descartes.[2]
Sejak permulaan Renaisans, sebenarnya individualisme dan humanisme telah dicabangkan oleh Decartes untuk memperkuat idea-idea ini. Humanisme dan individualisme merupakan ciri Renaisans. Humanisme ialah pandangan bahwa manusia mampu mengatur dunia. Ini suatu pandangan yang tidak menyenangkan orang-orang beragama. Oleh karena itu zaman ini sering juga disebut zaman humanisme, maksudnya manusia diangkat dari abad pertengahan. 
Pada zaman pertengahan manusia tidak dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan dari gereja (kristen) bukan dari ukuran yang dibuat oleh manusia, padahal manusia mempunyai kemampuan berfikir[3].
Selama abad pertengahan di Eropa kehidupan manusia diselimuti oleh hal- hal yang bersifat agamis, dengan semboyan hidup tidak selamanya dan ingat akan kematian. Setelah era Renaissance pandangan agamis tersebut mulai ditinggalkan dan tidak di hormati lagi, atau agama Kristen tidak lagi menjadi patokan dan pandangan hidup manusia Eropa pada saat itu. Renaissance adalah masa kekuasaan, masa kesadaran, masa keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan tanpa batas dan sering tanpa kesusilaan.Warisan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dipelajari lagi oleh para cendekiawan yang pada zaman itu disebut “KAUM HUMANIS”. Kaum humanis adalah jargon zaman Renaissance yang sejajar dengan artista(seniman) atau iurista(ahli hukum).
Datangnya sejarah Yunani di eropa karena minat orang-orang terhadap kebudayaan Yunani pada khususnya dan kebudayaan kuno pada umumnya.Orang mau mengambil kebudayaan kuno itu didunia itulah yang dianggap kebudayaan yang sempurna.Masa ini terkenal dengan sejarah sebagai lahirnya kembali zaman kuno atau renainssance. Filsafat merosot nilainya baik karena hasilnya yang kurang gemilang maupun karena dianggap terlalu kuno. Sedang pendapat-pendapat baru pada jaman renaissance ini biasanya amat bertentangan satu sama lain. Tiap-tiap pendapat merasa benar, orang bebas dalam segalanya. Perkembangan aliran humanisme di dunia barat Sejak abad ke-15 semakin menyadarkan para cendikiawan akan peranan dan kemampuan manusia dan martabatnya, dengan tidak berdasarkan iman dan agama. Dukungan atas kesadaran itu dicari dan ditemukan dalam studi tentang sastra, seni, dan filsafat masa yunani dan romawi kuno praktisiani.Dari dunia pasifik Barat salah satu titik definitif perkembangan itu dicapai pada masa revolusi Perancis dalam bidang filsafat sudah ada tanda-tanda ke arah pembaharuan itu.Umpamanya  Rene Dekartes, Barakh Spinoza, Blaise Pascal.Para filosof aliran empirisme inggris namun yang paling jelas adalah Immanul Kant dengan “revolusi kepernikan- kepernikanya.
Adapun manusia, pusat pandangan dan pengetahuan, bukanlah manusia pada umumnya seperti jaman yang mendahuluinya, melainkan sesuai dengan sifat modern ini.Manusia perseorangan yang merupakan individu yang kongkrit. Dan itu dalam kesusilaan pun tidak ada patokan umum. Dalam sistem pun manusia merupakan individu yang mengutamakan segala kekuatan, terutama budinya.
Dalam ilmu mencapai berbagai macam perkembangan yang bukan main. Seperti ilmu bahasa, ilmu hayat dan ilmu alam. Metode ini dicari serta didapatnya sendiri  dan hasilnya mengagumkan. Pada kalangan Scholastik tidak dikatakan ada kemajuan ilmu. Walapun harus diakui bahwa pada abad ke-15 dan ke-16 beberapa bagian Eropa terutam di Spanyol ada filsuf-filsuf  yang ternama. Tetapi pengaruh mereka  kurang besar pada kalangan ilmuan pada umumnya.
Dalam perkembangan ilmu-ilmu kemanusiaan, kita jumpai nama-nama seperti Auguste Comte, Karl Marx, Friendrich Engeis, Pierre – Joseph Proudhon, Sigmund Freud, dan terutama teoretikus ilmu – ilmu kemanusiaan, Wilheim Dilthey.

B.     Faktor-faktor gerakan renaisance

Renaissance muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan mengubah perasaan pesimistis (zaman Abad Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini juga menyebabkan dihapuskannya system stratifikasi sosial masyarakat agraris yang feodalistik. Maka kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi masyarakat yang bebas. Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan agama sehingga menemukan dirinya sendiri dan menjadi fokus kemajuan.
Antroposentrisme menjadi pandangan hidup dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari.Selain itu adanya dukungan dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan semangatRenaissance, sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa. Renaissance lahir sekitar abad ke 15-16 M, tatkala kaum intelektual, politik, dan seniman di daratan Eropa serentak bertekad untuk mengadakan suatu gerakan pembaharuan yang menginginkan kebebasan berpikir dan akan merubah doktrin agama mereka yang dirasakan sangat mengekang kemerdekaan batin. Perkembangan pertama renaisans terjadi di kota Firenze. Keluarga Medici yang memiliki masalah dengan sistem pemerintahan kepausan menjadi penyokong keuangan dengan usaha perdagangan di wilayah Mediterania. Hal ini membuat para intelektual dan seniman memiliki kebebasan dan mendapatkan perlindungan dari kutukan pihak gereja.
Keleluasaan ini didukung oleh tidak adanya kekuasaan dominan di Firenze.Kota ini dipengaruhi oleh bangsawan dan pedagang. Dari sini, kemudian renaisance menjalar ke daratan Eropa lainnya.Adapun sebab utama lahirnya renaisance itu karena keterkejutan orang-orang Eropa menyaksikan ambruknya imperium Romawi Timur oleh kaum Muslimin, terutama dengan peristiwa jatuhnya Konstantinopel yang menyebabkan penaklukan Kerajaan Turki atas Romawi Timur (Byzantium) pada tahun 1453 M.

Dalam Sejarah Eropa, faktor- faktor ekstern dan intern yang di alami masyarakat Eropa sehingga memasuki masa Renaissance[4], antara lain:
  1. Kelahiran Renaissance di Italia sebagia akibat maju pesatnya perdagangan dan pelayaran di perairan laut tengah terutama setelah berakhirnya perang salib.
  2. Menjelang akhir perang salib sebelum dan setelah tahun 1291 barang- barang dari timur diminati di pasaran Italia dan Eropa baik tenunan, makanan, rempah- rempah, perabotan rumah tangga dan lainnya. Sehingga impor produk timer meningkat dan kota- kota dagang di Italia menjadi ramai.
  3. Dengan ramainya perdagangan banyak memberikan keuntungan kepada pedagang dan melahirkan kaum bourjuis- kapitalis, dimana mereka sebagai masyarakat kota yang kaya juga pemilik modal besar.
Melalui kepemilikan uang dan kekayaan kaum kapitalis membuat mereka mampu membiayai penterjemahan ilmu pengetahuan, penampungan para seniman untuk berkarya.

C.    Pengaruhnya kepada Kebangkitan Filsafat Barat Modern

Eropa Abad Pertengahan memiliki ciri khusus di mana kekuasaan Gereja berpengaruh sangat dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan negara saat itu.Hal ini lebih lanjut juga mempengaruhi sistem filsafat jaman itu, berikut pula perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya.Ilmu pengetahuan dipandang dan digunakan untuk melegitimasi keyakinan yang didasarkan pada dogma-dogma agama.Filsafat pun demikian. Pendeknya, sebagaimana tradisi skolastik, segala sesuatu harus disesuaikan dengan kepercayaan akan dogma-dogma agama.
Cara pandang modern sebagai lawan dari cara pandang Abad Pertengahan dimulai di Italia dengan gerakan yang disebut Renaissance. Gerakan ini merupakan antitesa bagi corak kesadaran Abad Pertengahan yang ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis yang tampil dalam bentuk metafisika atau ontologi.
Apa yang dikehendaki oleh Renaissance adalah hal-hal baru sebagai kritik terus-menerus terhadap nalar teosentrisme yang melulu dipelihara pada abad pertengahan. Dari situ kemudian lahirlah berbagai macam bidang keilmuan yang dipisahkan dari pengaruh agama dan dogma, dengan sepenuhnya didasarkan pada kekuatan subyektifakal-budimanusia(antroposentrisme).Renaissance, meskipun bukan gerakan populer dan hanya dimotori oleh segelintir intelektual dan seniman “liberal”, gerakan ini mempengaruhi banyak hal dalam peradaban Eropa. Seni, sains, filsafat, dan lebih dari itu pola hidup Eropa, secara revolusioner bergerak menjauh dari style Abad Tengah yang puritan menjadi liberal. “Cogito ergo sum” yang di bawa descartes menjadi pondasi yang sangat mendukung, hal itu di pandang sangat jelas dan cocok.
Secara ringkas dapat diketahui beberapa perubahan yang sangat signifikan terjadi di Eropa yang dalam hal ini berkenaan dengan pengaruh Renaissance, yakni di bidang sains (berikut juga seni), paradigma sosial, politik,ekonomi.Ada cukup alasan yang menjadi dasar bagi pertentangan antara otoritas gereja dengan kepentingan sains,Salah satu alasan yang kiranya paling mendasar adalah bahwa dalam kenyataannya, sains, sebagai sesuatu yang relatif, seringkali bertolak belakang dengan apa yang diajarkan dan dianjurkan oleh gereja,
Maka logislah jika selama gereja berkuasa ruang bebas bagi sains menjadi sempit Pembebasan dari otoritas gereja mendorong terbentuknya cara berpikir yang sama sekali berbeda dengan dogma Abad Pertengahan. Otoritas gereja menyatakan ketentuan-ketentuannya sebagai kepastian absolut dan tidak bisa diubah selamanya. Objektifitas semacam ini tentu menjadi ruang sempit bagi kebebasan akal manusia untuk berkreasi, Pada Renaissance, otoritas gereja yang absolut itu diluluh-lantakkan sedemikian rupa oleh sains yang pernyataan-pernyataannya dibuat secara tentatif berdasarkan kemungkinan (relatif) dan dianggap dimodifikasi. Renaissance merupakan masa kebangkitan bagi sains.
Kebebasan berekspresi demikian menggebu-gebu mengalahkan segala tabu yang pada Abad Pertengahan menghegemoni perkembangan pemikiran manusia. Dalam hal ini Renaissance, lebih jauh dari pada membebaskan, juga membuat Eropa mengalami euforia. Seni untuk seni, sebagaimana sains untuk sains, adalah slogan yang sangat mengakar pada kesadaran banyak seniman Eropa Abad Renaissance.Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci adalah dua di antara para jenius yang dibesarkan dalam ruang euforia itu. Selanjutnya, apa yang juga menjadi dampak langsung dari Renaissance adalah berubahnya atmosfir sosial-politik di daratan Eropa. Hal ini, terjelaskan dengan menguatnya negara-negara yang menggantikan gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol kebudayaan. Ini merupakan awal bagi demokrasi, dalam pengertiannya sebagai paradigma sosial yang modern, yang menjadi sebuah kekuatan politik penting menggantikan monarki, absolut.
Bentuk pemerintahan demokratis yang muncul sebagai paradigma baru tersebut kemudian pada perkembangannya diikuti dengan munculnya bentuk kebudayaan baru, yakni kebudayaan liberal. Model ekonomi feodalistik yang diganti dengan model kapitalistik adalah suatu pengejawantahan, sekaligus konsekuensi logis, dari paradigma liberal yang berlaku, yang memiliki pondasi kuat berupa individualisme dan, tentu saja, humanism.
Gerakan ini mendorong tumbuhnya kebiasaan untuk menghargai aktifitas intelektual sebagai sebuah kerja sosial yang sulit, penuh tantangan dan menyenangkan, bukan meditasi menyendiri yang bertujuan memelihara ortodoksi predeterministik. Pada masa itulah tokoh-tokoh saintis banyak sekali muncul di Eropa. Lantas  tidak hanya sampai di sini, dialektika yang berlangsung dalam situasi ini pun mendorong sekularisasi, yaitu pemisahan kekuasaan politis dari agama[5].









KESIMPULAN

Renaissance adalah masa kekuasaan, masa kesadaran, masa keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan tanpa batas dan sering tanpa kesusilaan, yang terjadi dan muncul pada sekitar tahun 1500. Renaisance memberikan pengaruh yang luar biasa khususnya pada filsafat barat modern terutama dalam bidang seni dan sains. Dalam perkembanganya sendiri, munculnya gerakan renaisance di latar belakangi oleh berbagai faktor. Antara lain, tumbuhnya kota-kota dagang yang makmur, majunya kegiatan pelayaran di laut tengah akibat dari berakhirnya perang salib, dan lain sebagainya. Di samping itu, munculnya gerakan renaisance memberikan pengaruh yang luar biasa khususnya pada filsafat barat modern. Dari dilarangnya seseorang untuk berpikir yang dipelopori oleh golongan gereja, akhirnya dapat di akhiri dengan munculnya berbagai pemikiran-pemikiran yang mampu mengubah doktrinasi dari gereja tersebut.










DAFTAR PUSTAKA

Kattsoff, Louis O. 2004.Pengantar Filsafat. Yogya: Tiara Wacana
Suhendi, Hendra. 2008. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia
Wijanta, Poedja. 1961. Pembimbing ke Arah Alam. Jakarta: Pustaka Sarjana:



[1]Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogya: Tiara Wacana, 2004), hlm.vii
[2]Hendra Suhendi, Filsafat Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm 340
[3]Ibid, Filsafat Umum, hlm 339-340
[5]Poedja Wijanta, Pembimbing ke Arah Alam, (Jakarta: Pustaka Sarjana: 1961), hlm 91-92

Tidak ada komentar:

Posting Komentar